PEKALONGAN, Tugujatim.id — Inovasi siswa MAN Insan Cendekia (IC) Pekalongan terbaru dengan meluncurkan program inovatif pengolahan sampah makanan bertajuk “KomProMi” (Komposting Projek Mizan). Inovasi ini meluncur sebulan sebelum pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyorot serius soal sampah nasional dan serukan pelajar aktif menjaga kebersihan lingkungan.
Aksi siswa MAN Insan Cendekia ini menjadi contoh konkret implementasi arahan presiden untuk membangun generasi muda peduli lingkungan, berkarakter, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Untuk diketahui, Presiden Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Senin (02/02/2026), menegaskan pentingnya gerakan kolektif berbasis pendidikan untuk mengatasi krisis sampah. Selain itu, juga mendorong siswa terlibat aktif sebagai ujung tombak perubahan budaya lingkungan.
Semangat tersebut sejalan dengan aksi siswa MAN Insan Cendekia Pekalongan melalui KomProMi. Ini adalah program pengolahan food waste berbasis metode Bokashi Composting yang cepat, higienis, tanpa bau, dan tanpa emisi.
Kepala Madrasah MAN IC Pekalongan Khoirul Anam M PdI mengaku bangga dengan ide kreatif para siswa untuk melakukan aksi nyata.
“Kami senang dan bangga anak-anak kami memiliki inisiatif, ide, dan melakukan aksi nyata, termasuk dalam mencari sponsor atau pembiayaannya, di tengah kesibukan mereka dalam belajar dan mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” tutur Khoirul Anam M PdI.
Menurut Khoirul Anam, MAN IC Pekalongan berbangga karena para siswanya memiliki kepedulian dan semangat yang sangat tinggi.

Para siswa Madrasah MAN IC Pekalongan mengolah sampah makanan. (Foto: dok)
“Apalagi ketuanya, Mas Rayyan sangat aktif soal isu lingkungan, pernah terlibat dalam riset pengelolaan limbah batik, menjadi pembicara forum internasional eko-teologi, serta alumni pertukaran pelajar Finlandia 2024/2025. Dia saat ini telah memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari enam universitas luar negeri bergengsi pada jurusan teknik lingkungan,” tambahnya.
Project “KomProMi” ini sebagai bagian dari organisasi Atma Bawana yang didirikan oleh beberapa siswa MAN IC. Sesuai dengan namanya dari bahasa Sanskerta, atma berarti jiwa dan bawana berarti dunia yang merepresentasikan visi organisasi sebagai “jiwa bagi dunia” — sebuah ikhtiar membangun harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual..
“Tujuan Atma Bawana menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus membangun budaya peduli lingkungan berbasis nilai moral dan spiritual. Program-programnya menekankan pendekatan holistik, menggabungkan aksi nyata, edukasi, kampanye kreatif, serta integrasi nilai eko-teologi dalam kehidupan sehari-hari warga sekolah,” tutur Aisyah Auliyah Anisa, salah seorang pendiri Atma Bawana.

Inovasi siswa Madrasah MAN IC Pekalongan dalam mengolah sampah makanan. (Foto: dok)
Program inovasi ini diketuai Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa kelas XII MAN IC Pekalongan. Dia melibatkan lebih dari 50 relawan siswa.
Dia mengatakan, KomProMi mengintegrasikan pendekatan eko-teologi dan ekonomi sirkular dengan menjadikan nilai spiritual sebagai fondasi kesadaran ekologis.
“Nama KomProMi akronim dari Komposting Projek Mizan, dengan Mizan merujuk pada konsep keseimbangan dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman: 7–9), yang menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi,” ujar Rayyan yang memang menjadi “aktivis” lingkungan.
Selain membangun sistem pengolahan sampah makanan di lingkungan sekolah, Rayyan menambahkan, KomProMi juga menjalankan program edukasi, kampanye visual, dan seminar lingkungan berbasis nilai keislaman.
Dia melanjutkan, pengolahan sampah makanan melalui fermentasi anaerobik selama 10–14 hari hingga menjadi kompos. Hasilnya dimanfaatkan untuk penghijauan sekolah dan urban farming.
Target KomProMi ke depannya berkembang menjadi pilot project nasional, khususnya bagi sekolah berasrama, serta diperluas ke 25 MAN Insan Cendekia se-Indonesia. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah membangun gerakan nasional pengelolaan sampah berbasis pendidikan. (*)